Aku terus berlari meskipun tidak tahu arah, semakin Aku berlari semakin Aku tidak tahu arah yang dituju, ketika Aku berlari dari suatu tempat ke tempat lain Aku banyak melihat hal baru yang tidak Aku ketahui, hingga kakiku tidak kuat melangkah dan terdiam, Aku tetap tersesat dan tidak menemukan arah tersebut.
Sambil terus berlari dari kejauhan Aku melihat suatu tempat yang begitu sangat gelap dan menakutkan. Didalam hati Aku bertanya-tanya tempat apakah itu? apa yang sedang terjadi ditempat itu? mengapa
begitu sangat gelap dan menakutkan? Ingin rasanya Aku berbalik arah untuk kembali pulang. Tetapi
ketika Aku berbalik badan untuk kembali pulang, dengan sangat kecewa dan ketakutan Aku tidak melihat dan menemukan jalan yang Aku lewati tadi. Tiba-tiba saja semuanya sudah menjadi sangat gelap, hanya ada satu jalan yang bisa dilalui yaitu jalan yang menuju ketempat yang begitu sangat gelap dan menakutkan tadi yang berada di arah depan mataku. Ingin rasanya Aku hanya berdiam diri disitu sambil menangis dan
mengingat-ingat kembali jalan-jalan yang telah Aku lalui dan apakah yang telah Aku lakukan hingga bisa
sampai ketempat seperti ini. Meskipun hatiku menolak untuk pergi ketempat itu karena begitu sangat gelap dan menakutkan tetapi berbeda dengan kakiku yang memaksakan Aku terus berlari hingga sampai ketempat tersebut.
Aku semakin tidak bisa mengendalikan pergerakan kakiku yang terus berlari ke tempat tersebut. Hatiku semakin sedih dan getir melihat apa yang akan terjadi terhadapku jika sudah sampai ketempat tersebut.
Satu hal yang hanya Aku bisa lakukan sebelum sampai ketempat tersebut adalah mengingat kembali perbuatan salah yang telah Aku lakukan sehingga Aku bisa memperbaikinya bahkan mencoba untuk tidak melakukannya sehingga tidak sampai ketempat itu dan mengingat jalan yang telah membawa Aku sampai ketempat ini sehingga Aku tidak melaluinya serta lebih cepat berbalik arah dan memilih jalan lain yang tidak membawa Aku ke tempat seperti ini.
Kulangkahkan kakiku hingga Aku terus berlari dengan kencang, berlari terus-menerus mencari sang arah yang tak tahu dimana rimbanya. Hingga Aku menemukan suatu tempat yang sangat begitu luar biasa indahnya dan sangat diluar dugaan akal budiku berpikir.
Ketika Aku berhenti sejenak untuk beristirahat Aku melihat seseorang yang sangat mirip denganku dan seperti gambaran dari diriku sendiri. Aku bertanya dalam hati? Apakah Aku mempunyai saudara kembar? tetapi mengapa selama ini Aku tidak mengetahuinya? Ah, tidak mungkin Aku memiliki saudara kembar! Kan Aku adalah satu-satunya anak bungsu dari orangtuaku. Lantas siapakah Dia? Apakah mungkin itu adalah Aku? dan itu juga tidak mungkin, Aku kan lagi berlari mengejar arah dan sedang beristirahat sebentar disini.
Maka Aku putuskan untuk berlari mendekati Dia dan ingin bertanya padanya. Siapakah Dia? Tempat apakah ini? Bagaimana bisa ada seseorang yang mirip denganku berada ditempat seperti ini?
Ketika Aku sudah berada di dekat Dia, maka dengan segera Aku mencoba berkomunikasi dengannya untuk menanyakan segala kebingungan yang ada padaku. Tetapi ketika Aku sudah selesai bertanya padanya, Dia tidak menjawab dan hanya memandang ke arahku saja. Dan Aku pun semakin penasaran dibuatnya, tetapi Aku tidak tinggal diam saja untuk menjawab rasa penasaran padaku, maka Aku putuskan untuk bersalaman dan memegangnya. Tetapi apa yang Aku dapatkan dan rasakan? Aku tidak bisa menyentuh dan memegangnya!
Akupun semakin bingung dan penasaran. Ya, Tuhan tempat apakah ini. Lalu Dia pun pergi berlalu dariku dan seperti berusaha menunjukkan sesuatu padaku. Maka Aku putuskan untuk terus berlari mengikutinya.
Di tempat ini Aku merasa nyaman dan damai. Aku merasakan kehangatan dan kesejukan. Tempat ini begitu sangat indah dan sangat mengagumkan.
Sambil terus berlari mengikutinya Aku melihat semua makhluk hidup, saling hidup berdampingan satu sama lain. Hidup damai dan saling berbagi kasih. Semua manusia yang ada saling menjaga dan merawat lingkungan sekitar. Manusia sangat mencintai binatang dan tumbuhan, tidak ada pembunuhan terhadap binatang dan tidak ada perusakan terhadap tumbuhan. Manusia yang ada tidak lagi bekerja untuk mencukupi kebutuhan dan bertahan hidup melainkan pagi, siang, dan malam hanya bertugas untuk memuji, menyembah, dan memuliakan pencipta dan penjaga mereka karena segala sesuatu yang dibutuhkan sudah disediakan terlebih dahulu dan tidak akan kekurangan seorang pun. Setiap Manusia hanya perlu bersyukur dan mengucap terima kasih kepada pencipta mereka.
Lalu Dia terus menuntunku dan Aku terus berlari mengikutinya hingga sampai pada suatu tempat yang begitu indahnya dan cahaya sangat terang benderang memancarkan sinarnya hingga mataku tidak sanggup untuk memandang. Kemudian Dia seperti berbisik dan berkata ke telingaku dari tempat Dia berdiri.
" Inilah tempat Pencipta dan Penjaga kami, Dia sangat mengasihi kami semua, segala sesuatu yang kami butuhkan sudah tersedia oleh-Nya, Tugas kami hanya memuji dan memuliakan Nama-Nya"
Ketika Aku sedang berandai-andai " Aku ingin tinggal selamanya disini dan tidak ingin berlari lagi untuk pulang ". Tiba-tiba saja Aku merasa terjatuh, pijakan tempat Aku berpijak tadi sudah roboh entah kemana jatuhnya dan Aku kini sudah tidak berada ditempat yang nyaman dan damai tadi. Aku sudah berada ditempat yang berbeda dan Aku tidak menjumpai lagi seseorang yang mirip denganku yang menuntunku ke tempat bercahaya tersebut.
Aku terus berlari mencari sang arah, meskipun aku masih belum menemukannya, tetapi Aku terus berlari hingga menemukan suatu tempat dimana sepertinya Aku sudah terbiasa dan mengetahuinya terlebih dahulu sebelum sampai ke tempat tersebut.
Aku mendapati diriku terduduk di tanah tepat dibawah pohon Rambutan yang sangat rindang dan lebat daunnya. Aku tidak tahu dan lupa, mengapa Aku bisa terduduk dibawah pohon Rambutan ini dan sepertinya Aku mengenali dan hafal sekali punya siapa pohon Rambutan ini! Ya, pohon ini adalah milik Pak Asep tetanggaku, yang rumahnya hanya dipisahkan lima rumah lainnya dari rumahku. Lalu, mau berbuat apa Aku disini? Apakah Aku mau mencuri buah rambutan Pak Asep yang seperti biasa Aku lakukan? Ya, setiap pohon Rambutan Pak Asep berbuah dapat dipastikan Aku selalu mencurinya. Tak jarang Aku dan Pak Asep selalu berduel lomba lari marathon ketika Aku kedapatan tertangkap basa mencuri rambutannya. Dari ujung desa yang satu ke ujung yang satu lagi kami lomba lari marathon, hingga Pak Asep berhenti karena lututnya tidak kuat lagi berlari mengejar Aku yang merupakan seorang Pelari. Dan akhirnya Aku keluar sebagai pemenang dengan hadiah satu kantong plastik rambutan berhasil lolos ditangan.
Maka Aku lirik keatas pohon Rambutan, ternyata sang pohon belum berbuah, Aku baru ingat kalau pohon Rambutan Pak Asep selalu berbuah ketika bulan Agustus dan ini masih bulan Juli, jadi belum saatnya untuk mencuri Rambutan. Lalu apa yang Aku lakukan disini? baru Aku sadar ketika melihat sebuah handuk melilit dileher dan menggenggam botol minum ditangan. Aku tadi sedang berlari dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Dan Aku pun bangkit dari dudukku, kembali lagi untuk berlari mencari sang arah karena tenagaku sudah kembali pulih lagi. Tetapi Aku sangat heran mengapa masih sampai disini? Bukankah Aku sudah lama berlari? Bukankah Aku sudah jauh melakukan perjalanan? Bukankah sudah banyak hal yang telah Aku lalui? Tapi mengapa Aku masih berada di dekat rumahku? Aku pun mulai tidak mengerti dan semakin bingung atas semua yang terjadi.
Sambil berlari Aku melihat rumah Ibu Rina yang merupakan musuh bubuyutan dari Ibuku. Tetapi tidak diduga, disana saya melihat Ibu Rina dan Ibuku sedang asyik ngobrol dan bercengkerama satu sama lain.
Seperti tidak ada sesuatu apapun yang telah terjadi antara mereka berdua. Mereka bagaikan sahabat yang sudah lama tidak bertemu yang ingin segera berbagi cerita dan pengalaman masing-masing. Mereka bagaikan pena dan kertas yang tidak dapat dipisahkan. Terlihat sangat jelas terjadi komunikasi yang sangat harmonis antara mereka berdua. Apakah Ibuku dan Ibu Rina sudah berteman kembali? Tetapi mengapa Aku tidak mengetahuinya? Mengapa banyak yang tidak Aku tahu? biasanya Ibu selalu cerita segala sesuatunya padaku. Bertambah lengkaplah kebingungan dan keheranan pada diriku! Arah semakin menjauh dan Aku tidak tahu berada dimana?
Akupun tidak memperdulikannya, Aku terus berlari mencari sang arah, dan didalam hati bertekad untuk menemukan sang arah agar terjawab semua yang telah terjadi. Tidak berapa lama berlari, Aku menemukan teman lamaku Anto. Aku melihat Anto sedang menyapu halaman rumahnya sambil memperhatikan adiknya Tini bermain sepeda di halaman. Terlintas dalam pikiranku, Bukankah Anto telah diusir orangtuanya dan warga karena memperkosa adiknya Tini? Lalu, mengapa Dia masih disini dan berubah menjadi anak baik?
Apakah Dia sudah diterima kembali? Apakah hal itu pernah terjadi? atau ingatankulah yang salah terhadap Anto? Semua kebingungan dan keheranan semakin lengkap di dalam benakku!
Akupun memutuskan untuk kembali pulang kerumah, dan melanjutkan kembali besok perjalanan mencari sang arah. Karena semakin Aku berlari semakin banyak Aku temukan diluar nalar logika berfikir. Dan juga Aku sudah mulai lelah berlari, hari pun sudah semakin gelap saja.
Ketika Aku berlari pulang kerumah dan tidak berapa lama lagi Aku akan sampai dirumah. Di perjalanan menuju pulang kerumah tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi gelap dan sangat menakutkan . Seperti Aku berada di jalan tadi ketika mencoba kembali mengingat-ingat kesalahan yang Aku lakukan dan mengingat jalan yang telah membawa Aku menuju ke tempat yang sangat gelap dan menakutkan tersebut.
Ya, Aku baru sadar. Aku masih berada ditempat yang tadi dan kakiku memaksakan Aku untuk terus berlari menuju tempat yang sangat gelap dan menakutkan tersebut. Aku tidak berhasil memperbaiki kesalahan tersebut. Aku tidak berhasil menemukan jalan yang membawa Aku kesini sehingga Aku tidak dapat dengan segera berbalik arah yang membuat Aku tetap bertahan berada ditempat ini. Aku tidak berhasil menemukan sang arah yang membawa Aku kembali pulang.
Akhirnya Aku pun sampai ketempat yang sangat gelap dan menakutkan tersebut. Aku melihat kumpulan bara api menyala-nyala tepat di tengah tempat tersebut. Aku sangat heran mengapa cahaya itu tidak kelihatan dari luar tempat ini? mengapa dari luar sangat gelap ? padahal didalam sangat terang menyala-nyala, panas, dan sangat menyengat kulit. Ya, itu merupakan cahaya kegelapan. Aku melihat di segala sisi dari tempat tersebut begitu banyak manusia yang disiksa dengan sangat kejam dan keji. Aku mendengar suara longlongan yang begitu keras dan tajam menusuk telinga. Jeritan dan tangis mereka seolah-olah seperti ditujukan padaku. Suara-suara tersebut meminta padaku agar Aku dapat mengeluarkan mereka dari situ. Bagaimana Aku dapat menolong mereka? Aku pun juga tersesat disini dan kehilangan sang arah! Aku melihat mereka dicambuk, disiksa, dan dihujam dengan pedang dari segala arah. Tetapi mereka tidak kehilangan nyawa mereka, melainkan mereka hanya menerima rasa sakit yang sangat berlebih dan membuat mereka menderita. Hal ini lah yang membuat penderitaan mereka tidak berhenti-henti, datang terus secara bertubi-tubi.
Bayangkan, Aku saja tidak dapat menahan efek panas yang ditimbulkan dari bara api yang menyala-nyala apalagi Aku disiksa seperti mereka. Tidak tahu Aku akan jadi apa? apakah Aku dapat bertahan disini?
Aku pun terjatuh pingsan akibat tidak tahan dan kuat lagi menahan rasa panas yang Aku terima pada kulitku.
Entah sudah berapa lama Aku pingsan, tiba-tiba saja Aku tersadar. Seperti ada seseorang yang menuangkan satu tangki besar air ke badanku sehingga Aku tidak merasa panas lagi melainkan merasa kedinginan.
Ini adalah teriakan kesepuluh dari Ibuku yang memanggil Aku untuk segera masuk kedalam rumah karna diluar sedang datang hujan deras. Akupun tersadar dari lamunanku. Aku baru sadar air yang membasahi badanku adalah air hujan. Air Hujan tersebutlah yang membuat aku kedinginan. Aku sedang tidak berlari mencari sang arah melainkan Aku sedang termenung dikursi kayu tepat dibawah Pohon Seri yang berada didepan Rumahku. Aku pun segera berlari masuk kedalam rumah sebelum Aku basah kuyup dibuat air hujan.
" Aku akan terus selamanya berlari, karena aku sudah menemukan sang arah, Aku tidak takut lagi tersesat karena Aku sudah memiliki Pembimbing yang baik, yang membimbing Aku kepada padang rumput yang hijau "
Walaah...perjalanan yg panjang, ujung2nya mimpi rupanya
ReplyDeleteMari berusaha untuk terus berlari ke jalan kebaikan...
Semangat !
hahaha, , iya mbak Nhinis,
Deleteternyata cuman khayalan.
semangat terus utk melakukan kebaikan.
Ruang untuk berimajinasi begitu luasnya, seluas langit dan bumi ini. Imajinasi melewati batas administratif dengan kecepatan yang tiada batasnya. Dengan imajinasi bisa 'meraih' apapun 'warna dan renik' di dunia ini. Tentu walau berupa 'khayalan' namun tampaknya 'ungkapan hati' ini mengandung makna atau arti bagi kita untuk diambil hikmahnya apa yang ada dibalik semua itu. Salam cemerlang!
ReplyDeletewahh. . .sangat cemerlang bnget mas Herdoni ini.
DeleteSpeechless saya. .:)
ini semcam puisi yah...??? bahasanya puitis heheh,,,, tata bahasanya bagus,,,, dari pembukaan kalimat di awal menurutku itu kayak puisi,,,, bener kan ??? maaf mas kalau saya sotoy hehehe
ReplyDeletehahahaha. .
Deletethanks mas. .
tnang aja mas, kita orgnya welcome kok. .
siapa pun bebas mengkritik dan memberi saran terhadap setiap oretan
yang telah dibuat oretor. Agar semakin bagus kedepannya.
lw menurut mas sperti puisi. .no problem. . :)